:: Fadli Wilihandarwo ::

Jangan Takut Ga Lulus !

Posted by: wilihandarwo on: 29 Mei 2007

Tanggal 17 April 2007 kemarin, adik-adik kelasku yang duduk di kelas XII (Kelas III SMA) sedang ujian nasional. Ku teringat, tepat setahun yang lalu akupun melalui tes yang bikin jantung berdegup tak tentu, keringat mengucur deras, dan tangan bergetar ini. Segala cara dilakukan agar lulus. Sepertinya, tiga tahun kita belajar di sekolah, hanya di tentukan selama tiga hari ini aja. Wah, cape deh…

Dan saat menunggu pengumuman lulus pun menjadi suatu hal yang sangat mendebarkan. Detak jantung seakan tak berirama lagi. Bukan hanya kelulusan ku yang kuinginkan, tapi aku pengen temen-temen satu sekolahku lulus semua. Atas nama persaudaraan. Ga enak kan kalo Cuma kita yang bahagia, sementara temen seperjuangan kita pada sedih. Ga asyik banget.

Namun, usaha memang ga akan sia-sia jika diiringi kerja keras dan doa. Semuanya terbayarkan. Sekolahku lulus 100 persen. Alhamdulillah. Gembira banget waktu itu. Dan perguruan tinggi pun siap di depan mata untuk disambangi. Merajut impian menjadi sarjana. Mimpi yang sangat indah waktu itu. Sangat indah.

Dan sekarang, aku sudah duduk di bangku kuliah –setidaknya semester lalu-. Dan aku sudah merasakan dunia orang intelek –jangan diartikan dalam bahasa jawa ya, yang artinya (maaf) tahi, hehehe-. Dunia yang selama ini kulihat di televisi melalui demo-demo di depan kantornya wakil rakyat. Sambil bakar-bakar ban. Atas nama rakyat katanya.
Namun sekarang aku sudah berhenti kuliah. Bukan karena di DO. Bukan juga karena ga bayar uang kuliah. Tapi prinsip hidupku yang mengalahkan semuanya. Pertama, aku pengen berjuang lagi ngebangkitin sekaligus ngewujudin cita-citaku menjadi dokter. Cita-cita sekaligus tumpuan tanggung jawab bagi keluargaku. Keluarga yang selama ini telah menghadirkan aku diantara mereka. Keluarga yang canda dan tawanya masih kuingat sampai sekarang –dan mungkin selamanya-. Kuputuskan untuk belajar mandiri dirumah. Belajar lagi pelajaran SMA yang udah banyak kulupa. Dan aku memilih untuk belajar mandiri karena, aku ngerasa bisa ngatur kapan aku mau belajar. Dan aku pikir hasilnya akan lebih maksimal. Namun, entar deket-deket spmb baru aku mau ikut bimbel. Ya, ngetes-ngetes soal + try outnya lah..

Walaupun nanti ga lulus –mudahan lulus donk- aku akan terus berusaha lagi. Setahun lagi kesempatan ku. Mungkin Allah, belum menetapkan tahun ini aku jadi dokter. Insya Allah tahun depan. Karena aku ga mau hanya sekedar jadi dokter. Yang masuknya begitu mudah. Dengan duit. Ga’ lah… Karena masyarakat membutuhkan dokter yang pintar akal dan pintar hati. Ga bisa salah satu, harus keduanya. Dan aku akan berusaha memenuhi keduanya. Amin…

Dan aku juga udah menyiapkan planning lainnya jika aku ga lulus. Mungkin aku ga akan ditakdirin jadi dokter –setidaknya aku udah berusaha- aku akan terjun ke dunia bisnis. Ya aku begitu tertarik memimpin orang, warisan dari bapakku yang ga mau banget jadi pegawai negeri. Ya, akan kurintis semuanya dari awal. Dari nol.

Dan mulai sekarang aku udah rintis itu semua. Karena aku punya sedikit keahlian di bidang pembuatan website, ya aku sekarang mulai terjun ke bisnis dot com. Lumayanlah, entar kalo duitnya udah banyak, aku akan biayai kuliah kedokteranku sendiri. Aku tahu, begitu berat dana yang harus ditanggung oleh orang tuaku. Sedangkan aku masih punya adik yang begitu banyak juga dana yang harus disiapkan. Aku ga mau ngebebanin mereka. Sama sekali ga mau.

Dan sekarang aku sama sekali ga takut kalo ga lulus. Aku yakin Allah punya rencana yang indah buatku. Sangat indah. Dan aku belum tahu itu apa. Tapi aku yakin itu kan jadi nyata.
Alasan kedua, untuk sekarang aku berpandangan bahwa kuliah yang kujalani kemarin (FKM) dan fakultas-fakultas lainnya ga begitu sesuai dengan pandanganku. Bukan ga bagus loh, tapi ga sesuai dengan pandangan hidupku.

Aku memang senang berhubungan dengan masalah kesehatan (karena itu aku pilih Fakultas Kesehatan Masyarakat). Di FKM kita diajarkan untuk mensosialisasikan menjaga kesehatan itu lebih baik daripada mengobatinya. Sangat bagus.

Namun, suatu hari di gramedia, aku mendapat buku yang sangat bagus sekali. Judulnya Selamat Tinggal Sekolah. Disitu aku mulai berpikir, kalo belajar itu ga harus melalui bangku sekolah. Karena hakekatnya belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja. Kalau boleh saya bilang, belajar di sekolah dan perguruan tinggi itu hanya mengejar ijazah. Untuk mendapat legalitas. Karena, untuk mencapai idealisme sekolah dan perguruan tinggi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas hanyalah isapan jempol belaka. Dan sangat sedikit yang mencapai kondisi idealis seperti itu.

Dan aku pernah masuk dalam komunitas itu –sekolah- dan Anda juga pernah kan? Aku ngeliat orientasi para pelajar dan mahasiswa belajar di sekolah, adalah sekedar mendapat nilai. Nilai yang menurut guru kita adalah segala-galanya. Karena orientasi pendidikan kita adalah mengukur kemampuan. Bukan mengembangkan kemampuan. Jadinya, banyak temen-temen –kadang saya ikutan sih- nyontek, ngerpek(bikin catatan kecil), pake sms, dan seribu satu cara lainnya yang sangat beragam dan sulit diketahui oleh guru.
Inikah yang kita inginkan dari para pemimpin kita kelak nanti. Ah… aku sangsi mereka akan jadi baik kalo di sekolah aja nyontek.

Dan sekarang aku sudah merasakan hakekat belajar yang sesungguhnya. Tanpa tekanan, namun tetap ada target. Setiap hari sehabis bersih2 rumah di pagi hari aku udah belajar. Setiap 30 menit aku istirahat 5 menit. Sampai waktu zuhur tiba. Abis itu aku tidur siang ampe ashar. Abis itu kadang aku keluar. Kadang ke mal, taman, pantai, warnet ataupun kafe buku. Pokonya waktu sore itu aku manfaatin buat nyari ilmu yang lain. Trus abis isya aku belajar lagi sampai jam setengah sebelas. Biz itu nonton TV (tau kan acara apa? Empat mata yang lucu abiz). Trus sambung belajar lagi ampe jam dua. Trus tidur dan bangun lagi di subuh hari. Begitu seterusnya. Dan aku ga ngerasa tertekan ataupun terbebani. Aku begitu enjoy dan fleksibel. Dan dampaknya aku bisa lebih berkonsentrasi untuk belajar. Mungkin inilah makna sebenarnya dari kata “belajar” yang selama ini aku cari. Ini dia…
Mudahan tulisan ini bisa menjawab pertanyaan temen-temenku yang selama ini bingung dan kaget akan keputusanku untuk berhenti kuliah. Mudahan kalian sukses dengan dunia kalian. Dan saya yakin, tiap orang punya pendirian dan pemikirannya masing-masing. Dan aku sangat menghargai itu. Pesenku, belajarlah dengan giat. Bukan belajar karena ada nilai ya. Karena nilai itu adalah kompensasi atau hadiah dari usaha belajar kita. Ok bro….
Jangan lupa, kutunggu comment nya ya….

1 Tanggapan ke "Jangan Takut Ga Lulus !"

[...] Ke Surabaya bukan untuk jalan-jalan kok. Untuk ikut Ujian Masuk PMDK Unair. Yah, ini tes ku yang ke sekian kalinya. Setelah gagal berkali-kali di tes-tes sebelumnya, UGM kemarin juga ga lulus. Tapi aku ga patah hati, harus tetep semangat untuk wujudin cita-citaku. Mungkin orang menilai aku terlalu nafsu mau jadi dokter. Tapi biarlah orang berpendapat begitu. Yang penting aku punya alasan tersendiri kenapa aku begitu kekeh dengan cita-citaku yang satu ini. Baca aja disini. [...]

Tinggalkan Balasan

Statistik

  • 11,086 kali kunjungan

Kategori

RSS Download Program

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Harun Yahya

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kalender

Mei 2007
S S R K J S M
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

RSS Teknologi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.